Haloo! Ketemu sama saya penulis gaje. Kali ini, saya mau ngepost cerpen. Sad ending. Dan terinspirasi dari lagu Peri Cintaku-nya Marcell. Keren banget deh lagunya! Couplenya AlShill. Hehe, kebanyakan bacot deh eke, yasudaah… cekidotdotdooot bayi :D
Peri Cintaku ~A One Short Story From One Sad Song~
Di dalam hati ini,
Hanya satu nama,
Yang ada di tulus hatiku ini…
“Shilla, would you be my girl? Be a part of my life?” teriak Alvin dari lantai atas SMA Nusa Putra. Ya, bener banget, Alvin si ketua OSIS ter-cool seantero sekolah itu nembak Shilla, cewek cantik namun –bisa dibilang- cupu itu. Shilla kaget setengah mampus. Mimpi apa gue semalem? Ditembak Alvin secara ‘ekstrim’ kayak gini, pake manjat balkon, tereak-tereak pula. Batin Shilla panik plus kaget.
“Turun dulu, Vin! Gue jawab dibawah! Please!!” mohonnya kesekian kali. Namun akhirnya Alvin mengalah. Ia turun dari balkon lantai 2 sekolahnya.
“Shilla, lo mau gak jadi cewek gue?” tembak Alvin lagi, kali ini dengan posisi Romeo melamar Juliet. Berlutut memegang tangan Shilla. “TERIMA! TERIMAA! TERIMA!” teriak anak-anak SMA Nusa Putra yang menonton adegan tersebut. Shilla menjawabnya dengan anggukan pelan. Alvin berdiri, lalu memeluk dan mengecup kening Shilla lembut sembari berbisik, “Makasih…”
“SOOO SWEEEEEEEEET!!!”
Kesetiaan yang indah,
Takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu
Peri cintaku…
Ya, itulah suasana pernyataan cinta Alvin ke Shilla sebulan lalu. Sekarang Shilla sudah resmi menjadi pacar Alvin. Suatu hari, SMA Nusa Putra kedatangan murid baru bernama Ify. Ify ini adalah wanita cantik yang ternyata mantan pacar Alvin semasa SMP.
“Denger-denger, Ify pindah kesini cuma buat balikan sama Alvin lho Shill! Ati-ati lo!” peringat Agni, sahabat Shilla dari kecil sambil menusuk pentolan bakso terakhirnya. Shilla mendengus.
“Itu kan cuma denger-denger, nggak pasti dong Agni!” Shilla mulai sewot. “Lagian lo tau darimana lagi?” sambungnya malas.
“Tuh! Orangnya nyamperin lo!” tunjuk Agni pada Ify yang mendekat pada Shilla dan dirinya. Dan benar saja, Ify menggebrak meja Agni dan Shilla.
“EH! Lo ngapain deket-deket Alvin?!” gertak Ify. Shilla tersenyum miring, meremehkan.
“Alvin pacar gue, kenapa? Salah? Bukannya lo udah gaada urusan lagi sama Alvin ya? Lo kan mantannya?” tanya Shilla santai. Ify melotot.
“Denger ya lo! Gue tuh masih sayang sama dia tau! Gu—“
“Tapi gue udah gak sayang sama lo! Meskipun lo minta jadi yang kedua pun gue gabakalan nerima LO! GUE MAU SETIA SAMA SHILLA! Gak kayak lo yang main serong sama Iyel!” perkataan Ify terputus ketika Alvin menyerukan semua itu tepat dibelakang Ify. Ify tersentak, lalu berbalik.
“Tapi, gu—“
“GAK ADA TAPI-TAPIAN! PERGI LO! JANGAN URUSIN GUE LAGI! GUE BENCI SAMA LO!” Alvin murka. Shilla mengelus-elus punggung lelaki itu. Akhirnya Ify pergi meninggalkan Shilla dan Alvin serta Agni.
“Gue bakal setia sama lo, Shill…” Alvin memeluk Shilla.
“Vin…”
“Apa?”
“Lepasin.. gue malu…” aku Shilla polos. Alvin baru sadar mereka di kantin sekarang. Ia nyengir dan menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tidak gatal.
Benteng begitu tinggi,
Sulit untuk ku gapai…
Aku untuk kamu,
Kamu untuk aku,
Namun semua apa mungkin,
Iman kita yang berbeda…
Siluet-siluet cerita cinta Shilla dan Alvin kembali muncul. Sangat jelas terekam dalam otak Shilla. Mulai dari pernyataan cinta Alvin yang ekstrim, sampai acara labrak-melabrak yang dilakukan Ify semasa SMA. Sekarang Shilla dan Alvin sudah mencapai bangku kuliah. Mereka kuliah di Universitas Indonesia. Sekarang Shilla sedang bersama Alvin di kedai es krim, memadu kasih berdua disebuah meja outdoor. Disamping mereka terdapat taman bunga yang indah.
“Shill…” panggil Alvin. Shilla menoleh, mengalihkan pandangannya dari sebuah kupu-kupu cantik diatas bunga-bunga kecil berwarna pink.
“Kenapa?”
“Aku… emmm… mungkin hubungan kita gak bisa bertahan lama Shill….” Katanya ragu. Shilla mengernyitkan dahi.
“Maksud kamu apa,Vin?”
“Oma nyuruh aku putus… sama kamu…”
Shilla menghela napas. Sesungguhnya dia tahu, saat-saat seperti ini pasti akan datang.
“Aku… juga disuruh mama dan papa putus sama kamu, Vin…” lirih Shilla. Shilla mendesah pelan.
“Pasti karena keyakinan kita kan Vin?” sambungnya. Alvin mengangguk.
Alvin dan Shilla sama-sama terdiam. Masalahnya hanya satu, keyakinan. Mereka berdua berbeda keyakinan. Alvin Kristen, sedangkan Shilla Islam.
“Kita harus putus…” ujar Alvin.
“Tapi aku masih sayang kamu…” lirih Shilla.
“Aku juga..”
“Yaudah, keputusan kita putus atau enggak, kita tentuin besok aja Vin. Aku mau pulang.” Shilla beranjak pergi, namun ditahan Alvin.
“Biar aku anter.” Shilla mengangguk. Lalu mereka pun berlalu menaiki motor cagiva Alvin.
Tuhan memang satu,
Kita yang tak sama,
Haruskah aku lantas pergi?
Meski cinta takkan bisa pergi?
Shilla sedang membaca novel di kamarnya. Pagi ini Shilla tak ada kuliah.
Ceklek..
Pintu terbuka. Shilla mengalihkan perhatiannya dari novelnya. Ternyata mama Shilla yang membukanya. Mama Shilla langsung mengambil tempat duduk disamping putrinya itu.
“Shil, lagi ngapain?” tanya mama ramah. Shilla tersenyum.
“Baca novel ma. Mama tumben banget ke sini.” Tiba-tiba raut wajah mama Shilla berubah. Seakan meminta kejujuran Shilla.
“Kamu masih pacaran sama Alvin, sayang?” tanya mamanya. Shilla tercekat. Ia memandangi wajah mamanya.
“Eng…” Shilla ragu, namun akhirnya ia mengangguk.
“Kenapa kamu masih pacaran sama dia? Kan udah mama sama papa larang.”
“Shilla sayang Alvin. Alvin juga sayang Shilla.” jawab Shilla tegas. Mama menggelengkan kepalanya.
“Tapi sayang, Alvin berbeda keyakinan sama kita. Kamu gak boleh pacaran sama orang yang berbeda keyakinan sama kita, Shilla. Meskipun Tuhan satu, kita tetep gak sama Shill. Mereka pun berdosa jika berpacaran sama kita. Kalo kita pacaran sama mereka juga haram hukumnya. Mama mohon.. kamu lepas Alvin ya, sayang? Apa kamu juga gak kasihan sama omanya Alvin?” mata Shilla mulai berkaca-kaca. Melihat mamanya yang terus mendesaknya Shilla jadi tidak tega. Sebenarnya mamanya berulang kali memohon pada Shilla untuk melepas Alvin, namun Shilla selalu menolak. Akhirnya Shilla memeluk mamanya dengan lembut.
“Ma, Shilla akan coba.. Shilla akan mencoba untuk lupain Alvin…” lirihnya terisak.
‘meski berat.. meski perih…’ lanjutnya dalam hati.
Hari Minggu, seusai Alvin selesai menunaikan ibadah di gereja, ia meluncur ke café. Dia akan menepati janjinya pada omanya kemarin…
>>>>> Flashback: ON <<<<<
“Vin, kamu harus putusin Shilla. Oma gak mau tau, Vin! Kamu udah mempermalukan keluarga Sindhunata! Pacaran kok sama orang yang beda keyakinan!” Oma Alvin memarahi Alvin untuk kesekian kalinya, mendesak Alvin untuk segera memutuskan Shilla.
“Alvin akan coba, oma. Alvin akan coba untuk melupakan Shilla.” sahutnya.
‘walau SAKIT…’ batinnya.
“Bagus! Secepatnya ya, Vin! Oma mau jodohin kamu sama Angel, dia cantik, baik lagi!”
Alvin mengangguk, pasrah dengan keputusan omanya.
>>>>> Flashback: OFF <<<<<
Beberapa menit kemudian, Alvin sampai di café di mana dia akan bertemu Shilla. Untuk menepati janjinya pada Oma. Ia memanggil pelayan, lalu memesan segelas Capucinno milkshake. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan simple dress selutut berwarna baby blue bercardigan putih senada dengan flat shoesnya memasuki café. Shilla. Alvin melambaikan tangannya.
“Udah lama?” tanya Shilla.
“Belum. Liat aja milkshake ku belum abis.” Alvin tersenyum.
“Vin…”
“Ya?”
“Kita putus…” Shilla tercekat pada kata terakhir.
“Hm… oke deh. Pasti mama papa kamu yang nyuruh. Sebenarnya sudah sejak lama aku disuruh oma untuk mutusin kamu, Shill. Tapi aku nggak tega. Aku masih sayang banget sama kamu. Alasannya bukan hanya keyakinan… tapi aku mau dijodohin…” jelas Alvin. Shilla tersenyum paksa.
“Nggak pa-pa, Vin. Tapi aku boleh minta buat terakhir kali gak?” Alvin mengerutkan kening. Sementara Shilla mengeluarkan kalung berbandul merpati.
“Pake ini…”
“Maksudnya?”
Shilla tersenyum. “Arti kalung itu adalah, kita saling menyayangi, namun kita nggak terikat lagi. Jadi.. kalung itu menandakan aku masih sayang kamu… kamu juga masih sayang aku kalo kamu masih pake kalung itu…” jelas Shilla.
Alvin mengangguk. Lalu melirik jam tangannya.
“Shill, aku mesti pergi. Aku ada janji sama oma. Duluan ya… dah Shilla!” Alvin melambaikan tangannya. Shillapun membalasnya. Setelah membayar apa yang dipesannya, Alvinpun berlalu meninggalkan Shilla sendiri.
Bukankan cinta anugrah?
Berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa…
Tak lama kemudian..
CIIIIIIIIIIIT! BRAAAAAAAAAAK!!!
Shilla menoleh. Sepertinya ada kecelakaan tak jauh dari café. Entah mengapa ia memikirkan Alvin. Apa Alvin…
Shilla keluar dari café dan mendapati Alvin berlumur darah tak jauh dari café. ia berlari menerobos kerumunan.
“ALVIN! KAMU KENAPAA??” Shilla menangis melihat Alvin sekarat.
“S-shil.. a-aku s-saya-ng k-kamu…”
“Aku untuk kamu.. kamu untuk aku.. namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda…” alun Shilla.
“T-tuhan me-mang sa-tu, ki-ta ya-ng ta-k sa-maa.. ha-rus-kah a-ku lan-tas per-gi.. mes-ki cin-ta tak-kan bi-sa per-gi…” Alun Alvin, makin lama makin lirih, dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir kali. Tahukah kau apa yang diucapkannya sebelum pergi?
“Aku mencintaimu, Peri Cintaku…”
“ALVIIIIIIIIIN!! JANGAN PERGIII!!! AKU JUGA MENCINTAIMU! BANGUN ALVIN! BANGUUN…” Shilla berteriak histeris, menangisi Alvin yang sekarang telah dalam keabadian, bersama cintanya untuk Shilla…
5 tahun kemudian…
Tepat tanggal 20 September, Shilla mengunjungi makam Alvin bersama Cakka, suaminya sekarang.
“Happy birthday, Alvin.. I miss you..” Shilla meletakkan bunga lily putih didepan nisan Alvin.
“Nggak kerasa udah lima tahun semenjak kamu pergi, Vin. Aku masih nggak percaya kalo kamu udah nggak ada.”
“Rasanya baru kemarin kamu nembak aku, kita pacaran, dilabrak Ify. Kuliah, dipaksa putus, dan aku ngasih kalung merpati ini ke kamu. Aku harap kamu mengenang semua itu, Vin. Meskipun kamu udah nggak ada, kamu tetap hidup Vin, hidup di sini…” Shilla menunjuk dadanya. Tepat di hatinya.
“Shill, udahan yuk. Alvin.. happy birthday ya.. we miss you… you’re always in our heart…”
“Dah Alvin.. baik-baik di atas sana ya…” Shilla menengadah ke atas. Dia melihat segurat senyum di langit. Senyum Alvin. Shillapun membalas senyum itu, meskipun tak nyata…
Shilla melangkah menjauhi pusara Alvin, menggandeng tangan tangan Cakka, seolah memuali lembar baru yang bahagia bersama Cakka, orang yang dicintainya sekarang. Namun tak ada yang bisa menggantikan Alvin dihatinya. Alvin akan selalu punya tempat tersendiri di hati Shilla, dan tempat itu tak akan terganti oleh siapapun.
“Aku untuk kamu,
Kamu untuk aku,
Namun semua apa mungkin,
Iman kita yang berbeda,
Tuhan memang satu,
Kita yang tak sama,
Haruskah aku lantas pergi,
Meski cinta takkan bisa pergi…”
-Peri Cintaku, Marcell-
Uwaa! Akhirnya selese juga ni cerpen (sok) melankolis. Bagus gak? Gaje ya? Gak dapet feel nya ya? Waa, maap deh! Saya bukan ahlinya sad ending :( hehe. Thanks buat lagu Peri Cintaku-nya Marcell yang udah ngasih inspirasi. Thanks juga yang udah mau baca! Yang nunggu Fighting Girl harap sabar yaa, masih diketik :)
See ya in my next story!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar