Sabtu, 18 Desember 2010

Fighting Girl part 5

halooo *dadah2 ala miss unipret*! masih ada yang nungguin cerbung saya? yasudah deh. maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf banget ya aku ngaretnya keterlaluaan, kamu punya simpanan... *geplak! digampar pake panci* okeoke. ketimbang pipi saya babak tambah babak belur gini.. saya mau ngepost dulu. let we see! hope you like this :D

Fighting Girl part 5: Ify:: GUE DITEMBAK!!


Saat ini Ify masih menunggu dijemput Mang Ony, supirnya. Sepertinya Mang Ony juga akan menjemput adiknya, Oik. Tiba-tiba I-Phone nya bergetar, menandakan ada sms masuk. Ternyata Mang Ony.

From:: Mang Ony
Neng ify, mang ony gak bisa jemput neng sama neng oik, mang ony lagi pulang ke desa, ibunya mang ony teh meninggal dunia. Neng ify pulang sendiri yah. Atur nuhun ya neng.

‘Yaaaah. Mang Ony kaga bisa jemput. Gue naik apaan?’ batinnya kecewa. Namun, ia teringat belum membalas sms Mang Ony.

To:: Mang Ony
Iya mang, nggak pa2. Ify bisa pulang sendiri. Turut berduka cita ya mang.

Breees! Hujan tiba-tiba mengguyur di tempat Ify berada. Ify langsung minggir untuk berteduh di halte didekat cafĂ©. ‘Yah, taksi mah mana ada yang lewat sini…’ batin Ify. Tiba-tiba ada seseorang yang meminggirkan motornya menuju halte. Sepertinya Ify mengenali motor Cagiva hitam itu. Orang itu setengah berlari untuk menuju halte. Ify memicingkan mata. Tak salah lagi, orang itu Rio!

“Rio, belom pulang?” tanya Ify setelah Rio sampai di halte. Rio menoleh, lalu tersenyum.
“Belom, Fy. Pas gue mau pulang malah ujan. Yaudah gue berteduh dulu. Eh, lo kok disini?” jawab dan tanya Rio.
“Gue nunggu taksi. Mang Ony gabisa jemput.”
Rio melirik jam tangan Swatch hitam di pergelangan kirinya. “Yah, Fy. Udah jam segini disini mah gaada taksi.”
“Trus gue pulang naik apa?” gumam Ify. Rio dan Ify terdiam beberapa saat.
“Gimana kalo bareng gue? Rumah lo sama rumah gue kan searah.” Tawar Rio. Ify mengerutkan kening. “Ga ngerepotin?” tanyanya gak yakin. Rio mengangguk semabri tersenyum.
“Yaudah deh. Nunggu hujan reda dulu, ya.” Rio mengangguk.

Ify menggosokkan telapak tangannya. Kedinginan. Ify merogoh-rogoh tasnya, mencari jaket berwarna biru muda yang biasanya ia bawa. Sesaat kemudian..
“Siakul ni jaket pake ga dibawa. Dingin lagi,” rutuknya. Rio yang mendengarnya langsung menoleh. “Kenapa, Fy?” tanyanya lembut. Ify menggeleng.
“Nggak, Cuma ngga bawa jaket. Jaket gue ketinggalan.”
“Lo kedinginan? Bibir lo udah putih tuh..” tunjuk Rio pada bibir Ify yang mulai memutih. Ify .
“Yaudah,” Rio melepaskan jaket kulitnya lalu memakaikannya di tubuh Ify yang mungil. Sedikit kebesaran sih. “Pake aja.” Lanjutnya. Ify menatapnya heran. Rio yang sadar ditatap Ify menoleh.
“Kenapa? Baru sadar gue manis ganteng cakep cute?” katanya narsis. Toink! Seketika toyoran gratis dari Ify tanpa dipotong pajak 10% mengenai kepala Rio. “Narsis lo dikurangin dikit napa? Pede lo selangit sebumi sejadad raya deh!” cerocos Ify. Obrolan mereka berlanjut, sesekali diselingi canda tawa mereka.

^_^

Ditempat yang berbeda pada waktu yang sama, Acha sedang menunggu Via menjemputnya. Acha baru pulang sore karena dia ada eskul cheers. Berdasarkan sms yang dikirim kakaknya itu, sebentar lagi Via datang. Acha terus menunggunya. Meski hujan masih membasahi tanah yang ia pijak.
10 menit..
15 menit..
20 menit..
Drt.. drt..
Acha mengeluarkan BlackBerry Gemini nya. Terlihat disana ada BBM masuk. Kakaknya.

SiviaAzizah:
Cha, kk kyknya gbs jpt km deh. Kk kjebak mcet sm ka Alvin nih, mna hujan pula. Km plg naik taksi aja y syg. Luvyou :*

Acha mendesah. Sudah diduganya kakanya tersebut tak bisa menjemputnya, karena Via tak pernah terlambat menjemput Acha. Acha segera membalas BBM kakanya itu.

LarissaAcha:
Okedeh ka. Gpp. Ywda, ntr ak naik taksi aja. Luvyoutoo kaa :*

Acha melangkah dari gerbang sekolahnya menuju halte terdekat. Dia berlari, untung halte tak jauh dari sekolahnya. Acha terus menunggu. Sebuah motor mendekati halte. Sepertinya pengendara motor tersebut akan berteduh. Acha mengenali pengendara motor itu. Ozy.

“Hei Cha, belum pulang?” tanya Ozy. Acha menggeleng sambil mengeratkan sweater Heath nya.
“Belum, lagi nunggu taksi.” Ozy mengangguk. Sekian lama mereka terdiam hingga akhirnya hujan berhenti. Perlahan terlihat semburat mejikuhibiniu di langit. Pelangi.
Acha dan Ozy mendongak dan berkata, “Wow, pelangi!” lalu menoleh dan tertawa bersama.
“Suka pelangi?” tanya Acha. Ozy mengangguk.
“Banget. Pelangi itu bagus banget, ciptaan Tuhan yang paling cantik, sama kayak lo.” ucap Ozy tanpa sadar. Acha menoleh dan mengerutkan kening.
“Gombal. Hahaha” Acha tertawa, pipinya merona.
Ozy tersenyum lebar sekali. Ia menatap Acha dalam. Gadis yang belum lama ini mencuri perhatiannya di sekolah. Membuat pikirannya tak fokus dalam segala hal.
“Cha,”
“Hm?”
“Pulang bareng yuk, kan searah.” Tawar Ozy. Acha terlihat berpikir. Takut ditolak ajakannya, Ozy melanjutkan perkataannya. “Kan udah gada taksi Cha. Nunggu sampe botak pun gaada taksi. Jam segini udah sepi.” Acha melirik jam tangannya. Setengah lima. Akhirnya Acha mengangguk. Ozy menarik tangan Acha. “Yuk.”

^_^

“Eh Yo! Udah ah! Capek gue bercanda sama lo! Hahaha” kata Ify memegangi perutnya. Rio tak menggubris. Dia mah masih ngakak lebar banget, melebihi ngakaknya Mpok Nori. Rio menoleh, masih dengan wajah cengengesan. Ia melihat ke langit.

“Fy, ujannya udah reda nih.” Rio menatap Ify. Ify –yang masih sibuk meredakan tawanya—menoleh. Dia mengangguk.

“Pulang sekarang yuk, Yo!” ajaknya. Rio mengangguk. Rio menyerahkan 1 helmnya pada Ify. Ify menerimanya. Rio menaiki motornya diikuti Ify. Perlahan motor Rio melaju melalui jalanan Jakarta yang basah sehabis diguyur hujan.

“Fy! Pegangan! Gue mau ngebuuut!” teriak Rio sambil melirik kaca spion.
“Ga enak sama lo!” teriak Ify balik. Rio menambah kecepatan, sehingga Ify hampir terjungkal ke belakang. Refleks Ify memeluk pinggang Rio. Rio tersenyum. Menikmati pegangan gadis yang mencuri hatinya ini.

“Fy, alamat rumah lo mana?” tanay Rio waktu di lampu merah.
“Di Jl. Anggrek Raya no. 2, perumahan Nusa Indah.” Jawabnya.
“Berarti deket rumah gue dong? Gue kan juga di Anggrek Raya, tapi nomor 10.” Jawab Rio gak penting. Ify tak menjawabnya, karena sekarang lampu menyala hijau.

Akhirnya setelah 30 menit perjalanan, Rio dan Ify sampai di Rumah Ify. Ify turun dari motor Rio. Ia menyerahkan helm Rio ke empunya.
“Thanks ya, Yo. Mau mampir?” tawar Ify. Rio menggeleng.
“Nggak deh. Nyokap gue pasti udah nyap-nyap dirumah. Nyariin anaknya yang ilang gatau kemana” Rio nyengir. Ify tertawa.
“Yaudah. Gue masuk ya. Byee..” saat Ify hendak masuk, tangannya ditahan Rio.
“Eh tunggu Fy!” Ify menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”
‘Mungkin ini saatnya. Ayo Rio! Katakan cintamu!’ batin Rio.
“Would you be my girl?”
Ify melongo. Dia masih bingung mau jawab apa…
"Gue..."

waaaaa! ify ditembak! mau jawab apa ya kira2? tunggu part selanjutnya! thanks for reading :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar