Sabtu, 16 Oktober 2010

Fighting Girl part 2

Hello! Maaf lanjutnya lama hehe, tapi aku janjii, seminggu sekali bakal ngepost cerbung kok! Don’t worry! *emang ada yang nunggu cerbung gue ya?? Pede amet =_=”* Hehe, yaudah, gausa kebanyakan bacot! Ini dia the 2nd part! Hope you like this 


^_^


Fighting Girl part 2: Agni:: Cakka masih sayang Shilla? Terus Agni gimana?

Sore itu, Agni sudah siap dengan kaos hijau muda dan celana selutut serta jaket putih kebanggaannya. Tak lupa sneakers hitam putih nangkring (?) di kakinya. Bola basket udah dibawa. Dia sekarang lagi di depan rumahnya, nunggu Cakka ngejemput dia buat main basket bareng. Tak lama kemudian, berhentilah motor ninja biru milik Cakka di depan rumahnya. ‘Ebuset ni anak cakep amet! Kyaaa…’ batin Agni sambil senyum-senyum sendiri.

“Hei, Ag! Udah lama?” tanya Cakka berbasa-basi *jangan kelamaan ntar jadi basi lhoh Kka.. hehe *plak* disambit sandal -_-“*.
“Enggak kok, baru 5 menit hehe. Berangkat sekarang?” Cakka mengangguk.
“Naik, Ag! Pegangan yah, cz gue mau ngebut nih.” Suruh Cakka. Agni manggut-manggut lalu naik dan melingkarkan tangannya di pinggang Cakka *ciee.. sutsuitt.. *pletak!* digampar pembaca -_-*.
Cakka menjalankan motornya, dan memang bener-bener ngebut, dengan kecepatan hampir 100km/jam *kyaa!*. Agni was-was sendiri jadinya. Dia semakin mempererat pegangannya di pinggang Cakka *penulis juga mau Ag.. hehehe *toink* ditoyor Cakka. Cakka: mau lo! Penulis: iye iye.. sono balik!*.

^_^

Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di lapangan basket yang cukup luas. Cakka memarkirkan motornya. Agni sudah menunggu di lapangan basket.
“Udah siap maen, Ag?” tanya Cakka yang tiba-tiba muncul dibelakang Agni. Agni yang kaget hanya bisa mengelus dada.
“Bikin kaget ah! Iyaa, gue udah siap. Sekarang?” jawab Agni.
Cakka mengangguk. Akhirnya mereka bermain basket one on one. Sementara ini Agni unggul 10-8. Cakka yang berusaha merebut bola dari belakang Agni tidak hati-hati. Jadi tanpa sengaja dia terjegal kaki Agni. Cakka yang menyadari dirinya akan jatuh segera menarik Agni. Agni ikut jatuh bersama Cakka dengan posisi Agni menindih tubuh Cakka *co cwiit… hyakaka*. Senyap. Tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
‘Kyaa!! Cakka cakep banget! Huaa, gak mau lepas!!’ batin Agni histeris.
‘Agni manis banget yah ternyata.. rasanya gue mau hentiin waktu biar bisa gini terus..’ batin Cakka.
Mata mereka tepat beradu pandang. Setelah 10 detik, mereka menyadari kalo mereka lagi diliatin orang-orang yang lagi jalan-jalan. Malu dong ya, dengan posisi seperti itu.. hehehe. Agni segera berdiri dari jatuhnya. Dia mengulurkan tangan, membantu Cakka berdiri.
“Thanks.” Ucap Cakka sambil membersihkan tangannya. Agni hanya tersenyum manis.
“Sorry ya, Kka..” kata Agni terputus karena telunjuk Cakka menempel di bibirnya.
“Gak usah dibahas. Udah biasa kok.” Cakka tersenyum. Agni membalas senyumannya. Cakka cengo. Dia merasakan waktu terhenti karena senyuman manis Agni.
“Helloo.. Cakka, are you hear me?” Agni menyadarkan ke-cengo-an Cakka. Cakka tersentak, lalu tersenyum lagi.
“Istirahat yuk.” Cakka menggandeng tangan Agni menuju pinggir lapangan. Agni sih nurut aja. Hehehe.. Saat Cakka sedang minum, I-Phone nya berbunyi. Entah siapa yang menelepon.
“Halo? Oh.. kenapa? Di mana? Taman ya. Oke gue ke sana sekarang.” Cakka cuap-cuap di telepon. Agni mengernyit heran. “Siapa, Kka?”tanyanya penasaran.
“Shilla. Gue ke taman dulu ya. Mau ngungkapin perasaan gue yang sebenernya. Gue pergi bentar ya.. tamannya deket kok.”pamit Cakka akhirnya. Agni hanya bisa mengangguk lesu.
‘Apa Cakka masih sayang Shilla?’ batin Agni penasaran.

^_^

Sore itu, Sivia sedang ekstra memasak di sekolahnya. Kebetulan ekstra memasak barengan sama ekstra futsal. Kebetulannya lagi, lapangan futsal sampingan dengan dapur ekstra masak. Jadi Sivia bisa melihat Alvin dari dekat. Oya, Alvin ini udah disukai Sivia sejak lama. Dia gak terkenal di mata cewek-cewek SMA Pelita, soalnya dia cadangan. Yang memebuat Sivia menyukai Alvin adalah sifat pantang menyerahnya untuk masuk tim inti. Selain itu, dia cakep dengan tampang orientalnya, mirip artis korea gitudeh. Kali ini Sivia memberanikan diri untuk memberi Alvin hasil masakannya. Dia bikin onigiri gurih dan pedas. Tak lupa air mineral kalo-kalo Alvin kepedesan. Dia melangkah ke tempat Alvin berada, yaitu di bangku pinggir lapangan. Dia sedang duduk sendirian disitu. Via menghampirinya.

“Hei Vin. Gue bawa makanan nih. Dimakan ya..” sapanya ramah sembari tersenyum. Alvin menoleh, lalu membalas senyuman Via dengan tipis. Ia menerima tas kecil Via.
“Makasih ya, Vi. Tumbenan ngasih gue.”katanya sambil mencomot onigiri gurih. Via tersenyum. “Kebetulan punya gue sisa, ketimbang gak dimakan, gue kasihin ke lo aja. Lagian ini bagus buat stamina kok. Dan gue tau pasti lo capek banget.”jelas Via. Diam-diam ada yang melihatnya dari jauh. ‘Hmm, Sivia. Gue harus bisa singkirin itu cewek kegatelan. Alvin punya gue, dan gak ada yang boleh rebut dia.’ Batin orang itu sambil tersenyum licik.

^_^

Cakka berjalan menuju taman. ‘Gue mau nyatain ke Shilla, kalo gue udah gak sayang sama dia. Gue lebih milih Agni.’ pikirnya. Namun dia tak tahu, Agni mengintai kegiatan Shilla dan dayangnya, yaitu Dea. Namun kali ini tanpa Angel, karena Angel sedang mengurus sesuatu di sekolah.
“Gue gak nyangka Shill, Cakka mau balikan sama lo. Pasti dia bertekuk lutut sama lo yang cantik ini, ketimbang Agni kucel itu.”ujar Dea.
“Yaiyalah! Gue gituu…” Shilla menyombongkan diri.
‘Ih! Dasar nenek sihir gak tau malu! Hii… kok mau-maunya Cakka sama dia ya? Iyuh banget kelakuannya!’ pikir Agni bergidik ngeri.
“Kok lo mau balikan sama dia, Shill? Kan dia gak ada apa-apanya dibanding Riko..” kata Dea.
“Dia enak diajak jalan karena cakep. Kan lumayan buat gue pamerin ke orang-orang..” kata Shilla. Agni dari tempat persembunyiannya geleng-geleng kepala.
‘Ampun dah tu nenek sihir.. dipamerin lu kata barang apa? Ckckckc’ batin Agni heran.
Tak lama kemudian, Cakka datang. Ia sempat ditahan Agni, namun ia menyentakkan tangan Agni sambi meletakkan telunjuknya di bibir, nyuruh diem.
“Ada apa Shill?” tanya Cakka langsung. Shilla tersenyum manis.
“Lo mau balikan sama gue gak? Gue janji gue bakal setia sama lo..” katanya berharap. Cakka menggelengkan kepala. “Nggak. Ada orang lain yang lebih sayang ke gue ketimbang lo.”
“Siapa?” tanya Shilla (sok) kecewa. Padahal dia mau marah.
“Agni.” jawab Cakka singkat. Shilla dan Dea mangap selebar goa hantu.
“Oke gapapa. Gue masih punya harapan lain. Fine! We’re done.” Shilla pergi meninggalkan Cakka sendirian. Agni muncul dari persembunyiannya. Cakka yang menyadari itu langsung menghampiri dan memeluknya.
“Gue lega, Ag. Legaaaaaaaaaa banget. Semua karena lo.” Kata Cakka yang masih memeluk Agni. Agni tak membalas pelukan Cakka. Perlahan airmata bahagia Agni meluap. Dan sepertinya Cakka menyadari kalau Agni menangis. Ia segera melepas pelukannya.
“Kenapa nangis?” tanyanya heran sambil menghapus airmata Agni.
“Gue seneng aja. Saking senengnya sampe nangis.” Ujar Agni tersenyum. Ia kembali memeluk Cakka.
“Jadi.. lo mau jadi pacar gue?” tanya Agni sekali lagi. Cakka mengangguk.
“YEEY! THANKS CAKKA! GUE SAYANG SAMA LO!” teriak Agni histeris. Cakka hanya tersenyum menanggapinya. Dan sekarang mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

^_^

Yeeey! CaGni jadian uhuuuuuuy! Pejepejepeje.. hehehe
Siapa yang ngintip AlVia? Siapa yang tau??
Nantikan di the 3rd part : Sivia:: Gue dilarang sayang sama Alvin…

Sincerely Yours,




^_^ Rendolll ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar